"ing sakjeroning sepi kui ono ajaran luhur lan tumindak wicaksono kang dadi pinuju kabecikan-di dalam kerendahan hati itu ada ajaran luhur dan tindakan bijaksana yang menjadi tujuan kebajikan"

Kamis, 25 Agustus 2016

Tangan Kosong dan Ilmu Udara

“Alkisah, Markesot pernah berguru kepada seorang pendekar Mataram. Sang pendekar memberinya sebuah tombak yang panjang. Namun, bukan bagaimana cara menggunakan tombak tersebut, sang pendekar malah memberinya petuah mengenai falsafah tombak tersebut. Pendekar yang kurang sakti membutuhkan tombak yang panjang, pendekar yang lumayan sakti menggunakan tombak yang pendek saja, dan pendekar yang paling sakti tidak membutuhkan tombak, cukup tangan kosong!”
(Markesot, dalam Markesot Bertutur #1)

Tidak ada ketakutan, kebencian, dan permusuhan yang ditebarkan oleh tangan yang kosong. Begitulah, tangan yang kosong adalah tangan yang jujur. Tangan yang kosong tidak akan menebarkan ancaman bagi sekelilingnya. Ia akan terbuka bagi siapa saja, dan bisa diterima oleh siapa saja.

Tangan kosong tidak membawa ancaman bagi siapapun. Ia polos dan bersahaja. Wakil dari kesederhanaan. Ia hampa seperti udara. Menjadi bagian tubuh yang tidak perlu dilindungi. Siapapun tidak akan sungkan mendekat pada tangan yang kosong.  Tangan kosong tidak mendatangkan dan mengharapkan penilaian. Tangan kosong datang tidak sebagaimana tangan yang datang dengan pedang atau bahkan uang. Pedang dan uang, mengancam dan membuai, tidak pernah bisa jujur sebagaimana tangan kosong.


Tangan kosong memang, kadang kala, dalam situasi dan kondisi tertentu, dipaksa harus memukul, menampar, atau mencekik. Tapi itu adalah keadaan darurat ketika keputusan cepat harus diambil atas dasar sikap melindungi. Tindakan tangan kosong tidak akan berlebihan karena tidak ada pedang atau senjata apapun yang digenggamnya. Tangan kosong bertindak tanpa melebihi batas.Tangan kosong tahu batas-batas yang tidak boleh diterabasnya.

Bukankah tangan kosong bisa mencuri atau mengambil apa saja yang bukan haknya? Tangan yang telah mencuri atau mengambil sesuatu, tidak lagi kosong. Ia telah terbebani oleh materi yang menjauhkan manusia dari keheningan. Manusia yang terjauhkan oleh keheningan, dia telah terjebak dalam pusaran kegaduhan. Tangan kosong menjaga manusia agar tetap hening dalam situasi yang paling gaduh sekalipun. Bangsa Jawa mengenal istilah “topo ngrame”, atau bertapa dalam keramaian. Dalam situasi apapun, manusia Jawa harus tetap tenang, tidak “kagetan” (tidak mudah terkejut) dan tidak “nggumunan” (tidak mudah terpesona). Bersikap tenang dengan penuh keheningan.

Begitu halnya dengan udara. Siapapun akan menerima udara. Ia dibutuhkan oleh semua yang hidup maupun yang mati. Udara adalah sandingan bagi semua makhluk di bumi. Udara mampu menempatkan dirinya dimana saja, tanpa harus mengalami lupa bahwa ia udara.

Udara memang tidak terlihat, namun ia dirasakan oleh makhluk. Ia hadir dimanapun makhluk membutuhkan, tetapi tidak semua makhluk sempat menyadari kehadiran udara. Begitulah udara, ia hanya menyediakan dirinya bagi kebutuhan makhluk. Dianggap ada atau tiada tidaklah penting. Dalam keramaian makhluk, udara hadir tanpa harus menunjukkan siapa dirinya.

Udara menguapkan air dan membawa awan. Udara menempatkan awan dimana hujan harus diturunkan. Ketika hujan turun, maka kehidupan baru akan muncul dan menyambung kehidupan selanjutnya.

Terkadang, udara terlihat seperti marah ketika hadir sebagai topan. Tapi bukan udara yang berkehendak. Udara hanya mematuhi hukum alam bagaimana alam ini menyeimbangkan dirinya. Bagaimanapun juga, udara hanya memilih menjadi salah satu penyeimbang alam tanpa harus terlihat dan disadari oleh makhluk, karena begitulah tujuan penciptaannya. Bagi udara, pantang untuk menjadi selain udara, karena itu berarti dia akan menyalahi yang sudah tertulis. Pengingkaran terhadap apa yang sudah tertulis hanya akan menjadi karib bencana.

Siapa saja, mampu memukul udara, tapi udara tidak terpukul. Siapa saja bisa menebas udara, tapi udara tidak tertebas. Siapa saja mampu menusuk udara, tapi udara tidak tertusuk. Udara tidak akan membalas, karena udara memberikan semua dari dirinya.

Tangan kosong dan udara, begitulah mereka bersahaja. Memberikan rasa aman dan dibutuhkan semua makhluk. Mereka adalah dua hal, yang menjadi sanding bagi manusia. Tangan kosong yang bersahaja dan udara yang menafaskan manusia.
Tangan kosong dan udara, mereka ada dalam ketenangan, menjelajahi ruang dalam kesepian, dan mengantarkan manusia di dalam waktu keheningan. Tangan kosong dan udara tidaklah mungkin terpikat oleh hingar bingar kepandaian.

Tidak akan pernah ada yang mampu memusuhi tangan kosong dan udara. Karena, tangan kosong dan udara tidak akan pernah memusuhi siapapun. Tangan kosong menyampaikan kesahajaan dan udara menyampaikan kerendahhatian. Tangan kosong dan udara, mereka itulah yang akan menjadi Mersudi Patitising Tindak Pusakaning Titising Hening.


Minggu, 10 Januari 2016

Tentang Penaklukkan

Sebenarnya ini merupakan wacana yang sudah lama menjadi keprihatinan banyak orang di berbagai belahan bumi ini. Menyoal kerusakan lingkungan yang semakin parah dan hanya menyisakan rasa prihatin belaka. Bagaimana mungkin, bumi ini, rumah dan kehidupan bagi seluruh umat manusia, terus mengalami pengrusakan dari waktu ke waktu, demi satu tujuan, kesejahteraan manusia itu sendiri.

Puluhan tahun silam, sekelompok orang di Universitas Frankfurt, Jerman, mendirikan sejenis “komunitas terbatas” yang di kemudian hari terkenal sebagai Sekolah Frankfurt. Komunitas terbatas ini terdiri dari orang-orang dari lintas disiplin ilmu. Pembicaraan mereka adalah mengenai berbagai masalah sosial yang terus menghinggapi manusia modern.

Salah satu pembicaraan mereka menghasilkan apa yang disebut dengan rasio teknis, atau yang dikenal juga dengan rasio instrumental. Rasio teknis adalah bagaimana manusia modern memandang lingkungan sekitarnya. Dalam sudut pandang rasio teknis, alam adalah obyek yang harus ditaklukkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Penaklukkan alam dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia dalam sudut pandang industrialisasi. Filsafat modern yang berhasil menemukan jalannya di Eropa Barat kemudian berakibat pada revolusi industri. Para anggota Sekolah Frankfurt menganggap rasio teknis inilah yang mengakibatkan eksploitasi tanpa batas dan mengakibatkan tidak hanya bencana alam tetapi juga bencana kemanusiaan (kelaparan, urbanisasi, dan berbagai masalah sosial lainnya).

Revolusi industri adalah wajah yang tidak pernah ada dalam sejarah peradaban umat manusia sebelumnya. Belum pernah ada proses produksi massal yang mampu menandingi revolusi industri. Baik teknologi yang digunakan, bahan baku hasil eksploitasi alam, dan produk-produknya yang mampu melintasi penjuru dunia.

Industrialisasi yang ada sekarang ini, adalah hasil dari perkembangan revolusi industri yang mengharuskan eksploitasi terhadap alam, bahkan manusia. Perkembangan revolusi industri telah menghasilkan kelas sosial baru yang disebut dengan kelas buruh. Pada tahap berikutnya, kelas buruh ini terbagi menjadi dua, buruh kerah biru dan buruh kerah putih.

Buruh kerah biru adalah pekerja kasar yang berhubungan dengan proses produksi. Mereka ini diambil dari kelompok yang berpendidikan rendah dan hanya dibutuhkan tenaganya saja. Jumlah mereka sangat banyak, bahkan hingga ribuan tergantung dari kapasitas produksi pabrik tempat mereka bekerja. Gaji mereka pun terbilang kecil. Sedangkan buruh kerah putih adalah staf-staf ahli dari kelompok berpendidikan tinggi. Mereka adalah lulusan universitas dan terdiri dari para insinyur, ahli ekonomi, staf-staf pemasaran, atau para peneliti. Jumlah mereka lebih sedikit daripada buruh kerah biru. Gaji para buruh kerah putih ini tentu jauh lebih besar daripada buruh kerah biru.

Kembali lagi ke soal penaklukan alam. Rasio teknis bagaimanapun menghendaki bagaimana alam ini bisa di eksploitasi semaksimal mungkin. Eksploitasi alam tidak hanya didukung oleh para staf ahli yang kompeten, tetapi juga melibatkan perangkat aparatur negara melalui undang-undang. Raksasa-raksasa industri memiliki akses ke pemerintahan, hingga ke pemerintahan negara lain. Akses-akses ini memungkinkan berbagai raksasa industri tersebut memiliki legalitas untuk melakukan eksploitasi alam. Misalnya izin untuk melakukan penebangan hutan, pengeboran minyak dan gas, penambangan mineral, penangkapan ikan, atau membuat perkebunan sekala besar.

Eksploitasi alam ini, sebagaimana menggunakan sudut pandang rasio teknis, adalah bersifat memandang alam sebagai obyek. Manusia kemudian melihat alam adalah sekedar benda mati yang begitu di eksploitasi tidak akan memiliki dampak apa-apa selain keuntungan ekonomi. Cara berfikir rasio teknis ini, tidak hanya menghinggapi mereka yang menjadi pemilik raksasa industri, tetapi telah sampai kepada mereka yang bergelut dalam industri skala kecil. Penaklukkan alam pun semakin banyak dilakukan hingga ke pelosok manapun.

Bagaimanapun juga, penaklukkan alam ini memberikan dampak merugikan bagi manusia. Setelah tiba waktunya, manusia merasa bahwa eksploitasi yang mereka lakukan telah membawa kerugian. Sumber daya alam semakin menipis dan ini mengkawatirkan banyak pihak. Menipisnya berbagai sumber daya alam ini membuat sebagian pihak malah giat melakukan eksplorasi ke belahan dunia lainnya. Sebagian lainnya menyadari bahwa nafsu mengeksploitasi alam harus mulai dikendalikan.
Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh eksploitasi ini memunculkan kesadaran untuk menyelamatkan lingkungan. Banyak gerakan atau isu-isu bermunculan mengenai penyelamatan lingkungan. Bahkan muncul pula gerakan untuk menyelamatkan bumi. Tentu saja gerakan atau isu ini terkesan naif. Penyelamatan bumi tidak lain adalah untuk kepentingan keselamatan manusia. Harus hidup dimana manusia kalau tidak di bumi. Bumi adalah rumah satu-satunya bagi manusia.

Bumi, adalah bagian alam semesta yang memiliki aturan main sendiri jauh sebelum umat manusia menempatinya. Segala bentuk fenomena alam yang ada di bumi adalah bagaimana mekanisme keseimbangan alam berlaku di bumi. Begitu pula dengan yang disebut sebagai bencana alam. Banjir misalnya, adalah proses keseimbangan alam ketika tanah tidak mampu menyerap air di permukaan akibat gundulnya hutan dan mendangkalnya sungai-sungai akibat sampah yang menumpuk. Hal-hal seperti ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai bencana alam. Tentu saja, eksploitasi alam yang berlebihan menghasilkan masalah bagi manusia itu sendiri. Banjir, tanah longsor, kekeringan, adalah bagaimana bumi bereaksi dengan kondisi yang ada. Tanpa campur tangan manusia sekalipun, bumi sudah memiliki mekanisme sendiri untuk melakukan keseimbangan. Gempa, letusan vulkanik, atau tsunami, adalah gejolak alam yang sudah menjadi bagian dari bumi.

Eksploitasi alam secara berlebihan didasari oleh pemahaman bahwa alam ini adalah obyek. Pemahaman yang dilatarbelakangi revolusi industri ini terus tertanam kuat dalam alam fikiran manusia hingga sekarang. Pemahaman ini juga tertanam kuat di masyarakat Indonesia. Jenis pola fikir ini sebenarnya sangat bertolak belakang dengan pemahaman klasik masyarakat di Indonesia. Pemahaman klasik masyarakat di Indonesia, memandang alam adalah subyek sebagaimana manusia itu sendiri. Memperlakukan alam tidak bisa dilakukan dalam kerangka eksploitasi belaka, tetapi juga menjaga bagaimana keseimbangan tetap terjaga. Sebagian masyarakat di Indonesia, terutama Jawa, meyakini bahwa alam memiliki ruh. Alam bukanlah benda mati tanpa ruh. Alam memiliki ruh yang merupakan dimensi ruhaniyah alam dari sang penciptanya. Dalam hal ini, masyarakat Jawa klasik akan memanfaatkan alam secukupnya tanpa perlu adanya eksploitasi. Menjaga keseimbangan alam merupakan cara bagaimana masyarakat Jawa berinteraksi dengan lingkungannya.

Sekolah Frankfurt pun sudah mengatakan perlu rasio kritis, untuk menempatkan manusia pada posisi yang seimbang dalam hubungan dengan alam dan lingkungannya. Berbagai bencana alam dan kemanusiaan adalah akibat dari rasio teknis yang mendorong manusia bersikap tidak sewajarnya pada lingkungannya.

Namun, jauh sebelum Sekolah Frankfurt menyampaikan ide rasio kritis ini, masyararakat di belahan bumi bagian Timur, telah bersikap bagaimana menempatkan dirinya secara selaras dengan alam sekitarnya. Nilai-nilai masih banyak ditemukan pada berbagai tempat di pelosok Jawa. Bagaimana masyarakat Jawa melakukan sedekah alam, sesajen adalah bukan untuk menyembah selain dari-Nya, tetapi merupakan hubungan timbal balik yang selaras antara manusia dengan lingkungannya.

Di wilayah Gunung Kidul misalnya, ada larangan untuk memancing atau menangkap jenis ikan sidat. Larangan ini bukan karena sidat adalah jenis ikan yang keramat. Namun, masyarakat di Gunung Kidul memahami sidat mampu menghasilkan sumber-sumber air. Sungai-sungai atau sumber air yang terdapat ikan sidat akan lebih terjaga debit airnya pada musim kemarau karena ikan sidat memiliki perilaku untuk menggali sumber air begitu musim kemarau tiba. Karena itulah, memancing atau menangkap sidat dilarang mengingat Gunung Kidul adalah daerah yang rawan kekeringan ketika kemarau tiba. Tanahnya yang berupa kapur dan bebatuan sulit untuk menemukan sumber-sumber air. Berbeda dengan wilayah lainnya yang cukup mudah menemukan sumber air.

 Masyarakat Jawa klasik memahami bahwa harus ada hubungan yang bersifat timbal balik antara dirinya dengan alamnya. Hubungan timbal balik ini akan menempatkan manusia sebagai subyek dan alam juga sebagai subyek. Hubungan antara subyek dan subyek menghasilkan interaksi yang adil sehingga harmonisasi antara manusia dan lingkungannya bisa tercapai. Alam bukanlah obyek yang harus ditaklukkan, tetapi subyek yang harus diperlakukan secara bijak.


Selasa, 05 Januari 2016

Harga “Kemajuan”


Belum lama ini, saya pergi memancing di Pantai Ngeden, lebih tepatnya saya diajak memancing. Pantai yang baru beranjak “dijual” ini berada di Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai Ngeden merupakan pantai khas pesisir selatan Jawa, memiliki tebing yang tinggi, berombak cukup deras, dan lebih dalam dari perairan di utara Jawa. 

Saya berangkat bersama para pemancing senior dari Lempuyangan pada sore hari dan tiba menjelang maghrib di lokasi pantai. Suasana sudah remang-remang dan bersama rombongan langsung menuju lokasi. Dari tempat parkir menuju lokasi memancing dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Kami memancing dari sisi tebing sambil menikmati deburan ombak yang keras dan temaram cahaya bulan yang terkadang ditutupi awan.

Tetapi, bukan tentang memancing ini yang akan saya ceritakan. Awalnya begini, kami memutuskan pulang dari memancing pukul 3 dinihari. Dalam kegelapan yang hanya mengandalkan cahaya dari lampu sepeda motor kami menyusuri jalanan yang dibeton dan belum cukup layak untuk dijadikan sarana menuju tempat wisata. Beberapa menit kemudian, kami melewati dusun dengan deretan rumah yang masih agak jarang namun sudah diterangi oleh listrik. Sore hari tadi ketika hari masih cukup terang,  pada saat kami berangkat menuju lokasi memancing, dusun-dusun tersebut tergambarkan sebagaimana suasana pelosok Jawa pada umumnya. Aktivitas masyarakat dengan ladang dan ternak-ternaknya, anak-anak kecil, dan bau khas sampah organik yang dibakar. Tentu saja ada perkecualian, yaitu penampilan remaja yang sudah mulai khas anak kota. Gadis-gadis usia belasan yang mulai pakai hot pant naik motor matic atau remaja pria dengan gaya trendy dan motornya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari deretan rumah-rumah tersebut. Tipikal rumah di dusun yang dibangun semi permanen. Beberapa di antaranya sudah ada yang permanen dan beberapa lainnya masih terbuat dari papan kayu. Pada sekitar pukul 3 dinihari, rumah-rumah tersebut terlihat sunyi, begitu pula dengan lingkungan di sekitarnya.

Menariknya adalah ketika pada beberapa rumah saya melihat sepeda motor diparkir begitu saja, baik di teras rumah maupun di halaman. Tepatnya, bukan pula sepeda motor tersebut yang menarik perhatian saya. Motor-motor tersebut adalah jenis motor yang pada umumnya ditemui di tempat-tempat lainnya, baik dari jenis matic maupun bebek.

Menariknya tentu saja terletak pada bagaimana masyarakat menaruh harta benda mereka yang harganya terbilang mahal tersebut begitu saja. Meskipun tidak bisa dikatakan barang mewah, sepeda motor setidaknya memiliki harga jutaan. Bukan jumlah uang yang sedikit bagi masyarakat kebanyakkan di Indonesia.

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang tinggal di daerah pelosok, lingkungan sekitarnya merupakan wilayah yang harmonis dan ada upaya saling menjaga satu sama lainnya. Lingkungan sosial yang terbentuk dihasilkan dari rasa saling percaya yang cukup tinggi antara satu sama lainnya. Proses pembentukkan lingkungan sosial ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan waktu yang panjang, seiring mulai munculnya manusia yang hidup berkelompok.

Pembentukan lingkungan sosial ini terjadi dalam berbagai tahap. Karakter masyarakat Jawa tradisionalis yang harmonis dan lebih mengutamakan untuk mengantisipasi konflik sosial daripada bersitegang mengatasi konflik menghasilkan pranata sosial yang sifatnya lentur. Adat istiadat atau hukum yang dibuat lebih banyak berupa antisipasi konflik daripada mengatasi konflik. Namun, bagaimanapun juga letupan konflik tetap saja bisa terjadi sebagai bagian dari dinamika masyarakat maupun manusia sebagai individu. Proses penyelesaian konflik dalam masyakarat Jawa lebih bersifat mufakat dan mengedapankan sistem kekeluargaan. Hanya hal yang sifatnya kepentingan politik praktis yang bisa memicu terjadinya pertumpahan darah dalam masyarakat Jawa.

Segala bentuk adat istiadat atau hukum yang digunakan oleh masyarakat Jawa memiliki dimensi spiritualitas sebagai bagian tertinggi dari pranata sosial tersebut. Terlepas dari pengaruh datangnya agama monoteistik, masyarakat Jawa telah memiliki dimensi spiritualis sebagai panduan untuk interaksi sosialnya. Sifat tenggang rasa dalam lingkungan sosial lebih diutamakan daripada kepentingan materialistik. Bentuk penghormatan yang diperoleh dari lingkungan sosialnya adalah bagaimana perilakunya dalam interaksi sosial.

Dalam tradisi klasik pergaulan masyarakat di Jawa, materi akan membawa kehormatan jika pemiliknya mampu bersikap seusai dengan adat atau hukum yang disepakati. Dalam konteks ini, keluasan ilmu seseorang lebih diutamakan  karena ilmu itulah yang akan membuat perilaku seseorang mampu menjaga dirinya untuk mengganggu lingkungan sosialnya. Ilmu dan perilaku adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan dalam pengertian Jawa. Ilmu diperoleh dari hasil pengalaman dan kontemplasi seseorang untuk menempatkan dirinya agar tidak menjadi “masalah” bagi orang lainnya. Dalam sudut pandang ini pemahaman Jawa agak bertentangan dengan keilmuan modern yang cenderung memisahkan intelejensia dengan perilaku. Bahwa seseorang yang memiliki pendidikan tinggi tidak selalu mampu bersikap menjaga dirinya agar tidak menjadi masalah bagi orang lainnya. Bagi Jawa tradisionalis, hal ini tidak bisa dibenarkan karena ilmu akan membawa manusia pada keluasan luhur dan penjaga lingkungan sosialnya. Dengan demikian, akan muncul tingkat kepercayaan yang tinggi satu sama lainnya dan lingkungan sosial yang sehat pun akan tercipta. Tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya tentu saja akan memunculkan rasa aman.

Kembali ke Pantai Ngeden. Pantai yang dalam proses untuk dijadikan obyek wisata ini mulai dipermak beberapa bagiannya. Pembangunan infrastruktur mulai dilakukan meskipun terbilang pelan-pelan. Hal ini tentu saja sangat bagus untuk “kemajuan” masyarakat di sekitarnya. Nantinya, masyarakat tidak hanya akan menikmati infrastruktur yang semakin memadai, tetapi juga perkembangan ekonomi yang semakin baik. Meningkatnya ekonomi tentu saja akan membuat masyarakat lebih sejahtera.

Dalam sudut pandang kekinian, hal ini akan terlihat sebagai hal yang baik dan musti dilakukan. Bahwa pariwisata adalah salah satu alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, pariwisata juga akan “memberdayakan” – istilah yang kelewat mewah dan naif --  masyarakat agar memperoleh taraf hidup yang semakin baik. Benarkah harus seperti itu? Jawabannya sepintas iya.

Mari kita belajar pada apa yang terjadi di Parangtritis dan Parangkusumo. Parangtritis, pantai tujuan wisata nasional tersebut mendatangkan turis hingga puluhan ribu dalam setahun. Ekonomi berkembang pesat, infrastrutur terus diperbaiki, dan perputaran uang yang tentu saja sangat fantastis. Jika menggunakan ekonomi sebagai satu-satunya tujuan, maka apa yang terjadi di Parangtritis sangat layak dijadikan contoh. Begitu pula yang terjadi di Parangkusumo. Semakin banyak penginapan dengan harga lumayan mahal hingga lumayan murah.

Namun ada yang telah hilang dari Parangtritis dan Parangkusumo. Sesuatu yang mungkin entah berapa generasi membangunnya. Harmoni dalam tradisi Jawa tidak bisa lagi ditemukan. Harmoni dalam pengertian Jawa adalah bukan mendiamkan hal yang tidak baik, tetapi yang utama adalah bagaimana individu mampu berperilaku agar tidak mendatangkan masalah bagi individu lainnya. Demi pengembangan yang sifatnya ekonomis, pranata sosial Jawa yang usianya ribuan tahun tersebut entah lenyap kemana. Bagaimana mungkin kemajuan yang dikejar-kejar tersebut justru menghancurkan kemajuan Jawa yang telah dibangun dalam bilangan milenium. Tidak ada pemandangan layaknya Jawa tradisional. Segala bentuk hal yang demi kelancaran pariwisata diperbolehkan, apa pun diperbolehkan selama itu demi kemajuan ekonomis.

Kembali lagi ke Pantai Ngeden. Pantai ini dari segi alamnya sangat bisa menjadi Parangtritis atau Parangkusumo “tandingan”. Bahkan bisa menyalip jika pemasaran dilakukan dengan lebih lihai sesuai dengan prinsip marketing modern. Bisa dibayangkan ke depan, di sekitar Pantai Ngeden akan muncul banyak penginapan dari segala harga, munculnya berbagai toko souvenir atau warung makanan. Perilaku yang semakin permisif. Ditambah lagi dengan pembangunan infrastruktur yang semakin “wah”. Namun, jika semua hal tersebut harus dibayar dengan hilangnya harmonisasi Jawa yang telah dibangun selama ribuan tahun, apakah itu harga yang sepadan? Ah, saya rasa itu harga yang terlalu mahal! Masyarakat di sekitar Pantai Ngeden tentu tidak bisa lagi sembarangan memarkir motornya malam-malam di halaman atau teras rumah dan kemudian ditinggal tidur nyenyak begitu saja.

Rabu, 25 Juni 2014

DRACULA, TAKHAYUL DI PUSAT MODERNITAS (Kisah Pemusnahan Setan Warisan Abad Kegelapan dengan Perangkat Sains)

#SZ 2003

"Pertanyaanya adalah dimana para dukun, ahli sihir, kaum agamawan, atau cenayang yang biasanya jadi juru selamat pada kisah-kisah horor ini."

Konon ceritanya, subyek ini adalah makhluk paling menyeramkan dari semua jenis makhluk antagonis[1]  yang pernah ada. Tapi, tidak ada salahnya jika berkenalan lebih dahulu dengan subyek berikut.[2] Namanya adalah Count[3] Dracula. Subyek ini berdiam pada sebuah kastil nun jauh di pedalaman Transylvania, Romania.  Konon, usianya telah melebihi satu millennium. Dia yang tidak bisa mati, namun tidak juga hidup. Berkeliaran ketika matahari tenggelam dan tidur ketika fajar menyingsing. Tahukah kamu, tempat tidurnya adalah sebuah peti mati.
       Dracula, demikianlah sebutan yang kemudian mendunia. Menebarkan teror di sekitar Transylvania. Seketika orang-orang dilanda ketakutan ketika malam menjelang. Dia, subyek itu, terbang mencari mangsa di kegelapan malam dalam bentuk kelelawar. Uniknya, dia sangat menyukai cahaya bulan. Cahaya purnama yang benderang adalah petanda dia akan datang. Malam yang dinaungi bulan penuh pesona itu adalah alamat bahwa malam ini harus ada yang mati untuk melepas dahaga “yang tidak bisa mati”. Ratusan tahun lamanya, teror itu menghinggapi Transylvania. Owwhhh iya, satu lagi. Subyek tersebut tidak hanya mampu berubah menjadi kelelawar. Dia juga mampu menjadi binatang apapun yang dikehendakinya.
       Namun, subyek tersebut juga memiliki rasa bosan. Transylvania yang sepi dan terbelakang terasa tempat menjemukan buatnya. Terpikirlah untuk menyari persinggahan baru. Dan tujuannya adalah sebuah metropolitan di sebelah barat Eropa, London.
       Jonathan Harker, pengacara muda dari London. Dia inilah yang kemudian mengurus segala keperluan legal hukum kepindahan Count ke London. Sebuah rumah (lebih tepat gedung tua) telah dibeli sesuai dengan keinginan sang Count.
       Begitu sang Count tiba di London, seketika metropolitan tersebut dilanda horor yang tidak diketahui sebab musababnya. Namun, bukan disini sebenarnya menariknya kisah si Dracula ini. Perhatikan tokoh-tokoh yang berhasil menggagalkan rencana jahat si Dracula ini.
Jonathan Harker, pengacara yang berhasil meloloskan diri dari Transylvania. Profesor van Helsing, seorang ilmuwan lintas disiplin ilmu dari Universitas Amsterdam. Mina Harker, tunangan Jonathan yang berprofesi sebagai guru sekolah. Jack Seward, dokter sekaligus psikiater pada sebuah rumah sakit jiwa (mantan murid PvH). Serta Arthur Holmwood yang anak seorang pengusaha. Pertanyaanya adalah dimana para dukun, ahli sihir, kaum agamawan, atau cenayang yang biasanya jadi juru selamat pada kisah-kisah horor ini. Mereka semua telah disingkirkan oleh Bram Stoker, sang penulis “Dracula”.
       Muncul di penghujung abad ke 19. Tepatnya pada tahun 1897. Ketika itu adalah masa transisi penting menuju kekuasaan “sains”. Pelan tapi pasti, sains yang bersusah payah di gagas oleh Eropa Barat semenjak abad ke 16 itu mulai unjuk diri. Abad 19 di Eropa Barat, adalah fase revolusi industri. Sebuah revolusi yang berlatar belakang dari era modernitas. Filsafat ‘pencerahan’ mulai menemukan jalannya untuk membentuk wajah baru Eropa Barat. Wajah yang sangat bertolak belakang dari wajah Eropa selama hampir 2 ribu tahun lamanya. Tradisi sains yang telah ditinggalkan Bangsa Arab itu berhasil diteruskan oleh Bangsa Eropa.[4] London, sebagai wakil dari Inggris Raya, bisa dikatakan sebagai salah satu proyek utama sekaligus wajah modern Eropa.
       Mari kita simak awal mula penanganan dari ulah si Dracula ini. Korban pertamanya adalah Lucy Westenra. Lucy adalah tunangan dari Arthur. Setelah mendapat beberapa gigitan dari taring Dracula, Lucy mulai mengalami perubahan. Tubuhnya melemah seperti orang penderita anemia.[5] Arthur kemudian menghubungi sahabatnya, Jack. Jack ini tipikal dokter alumni universitas modern. Penanganannya terhadap Lucy dilakukan dengan prosedur medis kedokteran modern. Kesimpulannya, Jack tidak bisa memastikan penyakit yang diderita Lucy. Sampai disini, pendukung abad kegelapan masih bisa bersorak.
       Kemudian, Jack menghubungi bekas gurunya di Universitas Amsterdam yang bernama Professor van Helsing. Siapa itu Professor van Helsing? Seorang mahaguru nan eksentrik dari Universitas Amsterdam. Dia adalah tipikal ilmuwan modern yang “gila” dengan bermacam ilmu pengetahuan. Bukan hanya dunia kedokteran yang dia kuasai, namun juga ilmu-ilmu lainnya. Tidak ketinggalan, sang professor juga mengetahui berbagai mitos warisan masa lalu yang kerap jadi bumbu cerita pengantar tidur anak-anak kecil.
       Begitulah ketika telegram datang dari London perihal penyakit aneh tersebut, Prof. van Helsing segera menyebrangi Selat Channel menuju London. Kulit pucat yang tidak wajar, kesulitan bernafas, dan mimpi tentang kelewara sangat membuat PvH curiga. Ketika itu, Amsterdam-London bisa ditempuh dalam setengah hari. Pencapaian sains yang sangat revolusioner ketika itu. Tentu saja kapal uap maksudnya!
       Secepatnya PvH melihat keadaan Lucy. Wajah Lucy sudah sepucat kapur. Darah hampir menghilang dari sudut tubuhnya. Namun ia masih hidup. Lucy Westenra masih bisa dikatakan sebagai manusia pada saat ini.
-----------------------------------BERSAMBUNG




[1] JANGAN PERCAYA! Begitu kata Crowly. Crowly adalah karakter “setan baik hati” dalam novel Good Ommens. Awalnya dia memang jahat, namun waktu membuatnya menjadi insyaf. Jabatannya adalah semacam “anggota dinas intelejen” dengan misi khusus nan rahasia di Bumi. Konon Tuhan sekalipun tidak tahu maksud dan tujuan  Crowly di Bumi—sekali lagi jangan percaya! Dinas intelejen setan ini dipimpin langsung oleh Lucifer. Siapa itu Lucifer? Tanyalah Google.
[2] Istilah “subyek” digunakan untuk menyebut sesuatu yang levelnya di bawah manusia tapi tidak bisa disebut binatang atau kerabatnya.
[3] Count adalah salah satu gelar kebangsawan di Eropa.
[4] Perkembangan modernitas yang dilatarbelakangi masa pencerahan sangat debatable. Disini hanya untuk membicarakan masalah pengaruh modernitas pada novel karya Bram Stoker ini.
[5] Anemia tidak digunakan oleh Bram Stoker karena saat itu belum dikenal istilah anemia. Gejala yang dialami Lucy setelah digigit Dracula adalah seperti orang yang menderita anemia parah – menurut pendapat subyektif penulis.

Senin, 10 Juni 2013

MENGATASI RASA GALAU DENGAN PSIKOLOGI KOMUNIKASI


#SZ
“Ungkapkanlah”  demikian yang disampaikan oleh Sigmund Freud, pendiri dari psikoanalisis. Istilah “ungkapkanlah” ini adalah untuk memberi kesempatan kepada seseorang untuk benar-benar secara terbuka dan jujur pada diri sendiri untuk menyampaikan apa yang menjadi masalahnya. Ketika masih berpraktek sebagai psikiater, Sigmund Freud lebih banyak mendengarkan keluh kesah para pasiennya. Sigmund Freud memberikan rasa nyaman pada para pasiennya agar terjalin pembicaraan jujur dari hati ke hati. Dengan demikian, terdapat peluang besar untuk membuka tabir permasalahan psikologis yang dihadapi para pasiennya. Bisa dikatakan, Sigmund Freud telah mempelopori apa yang disebut dengan psikologi komunikasi.
Apa yang dilakukan oleh Sigmund Freud ini mengilhami para psikolog untuk melakukan hal yang sama. Titik pentingnya adalah bagaimana terjalin komunikasi yang sehat. Komunikasi yang sehat inilah yang secara psikologis akan membuat seseorang melepaskan tabir yang menghalanginya untuk jujur pada sebuah pembicaraan. Bahwa manusia membutuhkan sebuah proses komunikatif untuk menyampaikan apa yang ada dibenaknya. Disinilah sebenarnya pokok utama dari psikologi komunikasi. Apa yang ada dibenak manusia, seringkali tidak selalu positif. Psikologis manusia tidaklah berada pada kondisi yang normal secara konsisten. Kondisi psikologis akan selalu berubah-ubah atau tidak stabil.
“Ungkapkanlah” dalam bahasa anak gaul mungkin bisa diartikan dengan curhat (curahan hati). Curahan hati ini cukup populer dikalangan generasi terkini. Istilah ini lazim digunakan dalam wilayah  pembicaraan antar sahabat. Seringkali terjadi pembicaraan dari hati ke hati antar sahabat untuk menyampaikan permasalahannya. Disinilah psikologi komunikasi memainkan perannya.
Masa remaja merupakan masa-masa kritis secara psikologis. Remaja cenderung mengalami kondisi psikologis yang tidak stabil. Penyebabnya adalah masa-masa remaja merupakan masa-masa pembelajaran dan pembentukan identifikasi diri. Pada masa-masa ini remaja akan menemui saat ia merasa tidak tahu, rendah diri, over confident, atau emosi yang sulit dikontrol. 
Psikologi Komunikasi
Sebenarnya, apa manfaat komunikasi itu? Komunikasi sangat berguna untuk memahami diri sendiri dan orang lain serta menciptakan hubungan yang penuh makna. Komunikasi juga sangat memungkinkan untuk terjadinya perubahan sikap dan perilaku.
      Menurut Watzlawick, Beavin, dan Jackson, terdapat lima aksioma komunikasi untuk menjelaskan proses komunikasi, yaitu:
•     Anda tidak mampu berkomunikasi
•     Setiap interaksi memiliki dimensi isi dan hubungan
•     Setiap interaksi diartikan dengan cara bagaimana pelaku interaksi menjelaskan kejadian
•     Pesan bersifat digital dan analog
•     Pertukaran komunikasi bersifat simetrik dan komplementer
Dengan demikian, psikologi komunikasi merupakan proses pertukaran makna antar manusia yang melibatkan sisi psikologis manusia itu sendiri. Sehingga, terdapat hubungan yang saling terkait antara psikologi dan komunikasi.
Galau dan Hambatan dalam Psikologi Komunikasi
Merujuk pada www.artikata.com, istilah galau bisa diartikan sebagai keadaan yang tidak menentu. Keadaan yang berupa keresahan, kekhawatiran, kebingungan, dan kepanikan. Bisa juga diartikan sebagai kondisi hilang akal, tidak tahu harus berbuat apa, atau risau tanpa alasan yang jelas.
“Ungkapkanlah” sebenarnya hal yang sederhana dan mudah dilakukan. Namun, pada praktiknya hal tersebut seringkali tidak berlangsung mulus. Sikap yang kurang terbuka dari si penyampai pesan dan reaksi yang kurang baik dari si penerima pesan sangat berpengaruh.
Sikap kurang terbuka tentu saja tentu saja mempengaruhi keberlangsungan dari komunikasi tersebut. Kenapa? Jika ada hal yang disembunyikan (tak terungkapkan) akan membuat masalah tersebut tidak akan sampai ke akarnya. Masalah yang tidak ditelusuri hingga ke akarnya hanya akan meninggalkan masalah lain yang sifatnya laten (tersembunyi). Masalah yang sifatnya laten justru akan memicu masalah lain yang lebih besar karena susah diantisipasi. Masalah laten ini seringkali menghinggapi remaja. Remaja memiliki kecenderungan komunikasi yang terhambat dengan anggota keluarganya, terutama kepada orang tuanya. Perbedaan situasi zaman antara orang tua dengan anak-anaknya seringkali membuat mereka tidak bisa mengerti kondisi psikologis anak-anaknya. Ironisnya, orang tua seringkali memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Orang tua memiliki alasan kuat bahwa mereka merasa memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak. Dalam hal ini tentu saja benar. Namun pengalaman tersebut terjadi pada zaman yang sudah jauh berbeda dengan zaman anak-anaknya. Sikap orang tua yang seperti ini tentu saja akan membuat anak-anaknya menjadi tidak nyaman dalam berkomunikasi.
Situasi ini jelas-jelas membuat proses psikologi komunikasi menjadi terhambat. Sikap kurang terbuka dari penyampai pesan dan reaksi yang penerima pesan yang kurang bijak adalah faktornya. Inti dari psikologi komunikasi adalah pembicaraan dari hati ke hati. Ketulusan dari kedua belah pihak sangat menentukan. Sangat dibutuhkan penyampaian pesan yang jujur dan keikhlasan dalam mendengarkan. Satu pihak yang bersikap tidak tulus maka psikologi komunikasi akan terhambat.
Remaja akan lebih memilih untuk curhat kepada teman-temannya. Masalah yang lebih besar akan muncul disini. Jika remaja curhat kepada temannya yang kebetulan baik, maka nasihat baik yang akan dia dapatkan. Jika temannya ternyata tidak baik, maka pengaruh buruk yang akan di dapat. Orang tua, dituntut untuk mengerti kondisi kekinian dari remaja. Dengan demikian, orang tua akan mampu menciptakan proses psikologi komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
Bagaimana Psikologi Komunikasi Diterapkan?
Tujuan utama dari psikologi komunikasi adalah terjalinnya proses pertukaran makna yang efektif. Pertukaran makna efektif antara penyampai pesan dan penerima pesan akan menghasilkan suasana yang sehat.
Menurut Farid Hamid S.Sos, dalam proses komunikasi ini manusia memiliki dua faktor yaitu faktor personal dan situasional. Faktor personal terdiri lagi dari dua hal, yaitu faktor biologis dan sosiopsikologis.
Faktor biologis ini berupa naluri atau keingininan yang sifatnya biologis. Naluri ini tercermin dari perilaku manusia yang bersifat pribadi (misalnya emosional, penyabar, atau hobi). Sedangkan yang termasuk dalam keinginan biologis ini misalnya sandang, pangan, dan papan.
Faktor sosiopsikologis adalah proses sosial yang membentuk karakter yang berujung pada pengaruh terhadap perilakunya. Karakter ini memiliki tiga komponen, yaitu komponen afektif, kognitif, dan konatif.   Komponen afektif adalah aspek emosional dari faktor sosiopsikologis. Komponen kognitif berhubungan intelektualitas seseorang (apa yang diketahui oleh seseorang). Sedangkan komponen konatif adalah aspek kebiasaan dan hasrat untuk bertindak.
Sedangkan faktor-faktor situasional melihat perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan, bagaimanapun sangat berperan penting dalam mempengaruhi perilaku manusia. Dengan memahami berbagai faktor dari manusia, maka proses komunikasi akan lebih mudah dilakukan dengan efektif. Komunikasi yang efektif ini akan menghasilkan lima hal, yaitu:
1. Pengertian: saling memahami antara si penyampai pesan dan penerima pesan akan menimbulkan rasa saling pengertian.
2. Kesenangan: rasa nyaman akan muncul ketika berjalan efektif. Pembicaraan dari hati ke hati akan menciptakan hubungan yang hangat, erat, dan menyenangkan.
3. Mempengaruhi sikap: pendekatan persuasif memerlukan saling pengertian terhadap diri penyampai pesan dan penerima pesan. Pesan akan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi si penyampai pesan dan pesan akan menimbulkan pengaruh terhadap si penerima pesan. Persuasi merupakan proses mempengaruhi pendapat, sikap, atau tindakan dengan menggunakan rekayasa psikologis. Sehingga, seseorang akan bertindak berdasarkan kehendaknya sendiri.
4. Hubungan sosial yang baik: manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia selalu membutuhkan kehadiran dan bantuan manusia lainnya. Manusia selalu membutuhkan hubungan yang sifatnya positif dengan orang lain. Membutuhkan rasa kebersamaan dalam lingkup sosial dan saling memiliki dalam lingkup pribadi
5. Tindakan: persuasi juga dimaksudkan untuk menciptakan tindakan yang diharapkan. Adanya tindakkan merupakan keberhasilan penting dalam komunikasi yang efektif. Untuk menciptakan proses persuasi yang berhasil menciptakan tindakan diperlukan saling pengertian, membentuk sikap, serta menumbuhkan hubungan yang baik. Pemahaman akan psikologi komunikasi sangat diperlukan bagi orang tua zaman sekarang, apalagi jika memiliki anak-anak yang beranjak remaja. Permasalahan remaja sekarang semakin kompleks seiring membanjirnya media, dan mudah masuknya semua pengaruh asing. Jejaring sosial juga tidak kalah penting dalam hal menimbulkan rasa “galau” pada remaja. Bukankah sudah sering muncul kasus penculikan remaja putri melalui jejaring sosial. Hubungan orang tua dan anak akan semakin erat dengan pendekatan psikologi komunikasi. Rasa “galau” yang menghinggapi remaja sudah seharusnya diselesaikan oleh orang tuanya (atau anggota keluarganya yang lain), bukan orang lain.

Selasa, 22 November 2011

Gaya Hidup Kontemporer (Sebuah Pengantar)

#SZ, Juli 2005
Era kontemporer memposisikan iklan tidak lagi sebagai sarana untuk menawarkan produk, tetapi—yang terpenting—menawarkan sebuah citra akan identitas kekinian yang mampu mengontrol apa yang harus dibeli. Iklan mampu menembus sebuah citra akan identitas kekinian yang mampu mengontrol apa yang harus dibeli. Iklan mampu menembus alam tidak sadar manusia sehingga tanpa proses kritis dan rasional, masyarakat mampu digiring pada sebuah kondisi yang sulit dibedakan antara yang rasional dan irasional, antara fiksi dan fakta, antara yang asli dan imitasi, antara yang nyata dan fatamorgana. Meminjam istilah psikoanalisis sebagai kondisi schizophrenia.

Menjadi tirani audio dan visual dalam keseharian masyarakat, iklan tampil di semua media massa. Iklan, mengutip Sut Jhally dalam karyanya Advertising as Religion: The Dialectic of Tecnology and Magic (1989), bahkan telah mengeser peran agama dalam memberi pengertian tentang kebahagian dan kehormatan diri. Iklan telah menjadi parameter legimitasi trade mark masa ini.

Hiperealitas iklan yang merupakan hasil dari simulasi yang dihadirkan secara kontinyu dengan bantuan perangkat-perangkat media massa menjadikan iklan kehilangan representasi realitas sosialnya. Iklan tidak lagi merujuk pada sebuah realitas apapun, tetapi merujuk pada dirinya sendiri sebagaimana Baudrillard sering mengatakan bahwa hiperealitas-lah yang sekarang menjadi realitasnya. Simulasi hadir dimana-mana, dari wilayah politik praktis, ekonomi, teknologi, bahkan jauh menembus ke wilayah-wilayah yang mungkin tidak terbayangkan pada zaman sebelumnya: ruang tidur. Modernitas memberikan ruang selebar-lebarnya bagi berlangsungnya berbagai simulasi. Pada titik yang sangat ekstrim, siapapun tidak akan sadar bahwa yang sedang terjadi hanyalah sebuah simulasi.

Dunia modern adalah dunia yang penuh kelimpahruahan. Semuanya hadir dalam sebuah sistem yang saling menciptakan ketergantungan satu sama lainnya. Sistem sosial yang layaknya sebuah kontrol terhadap subsistem-subsistemnya. Mode, fashion, mobil, dinner club, adalah lifestyle yang menjadi parameter-parameter yang  merongrong manusia untuk terus menerus mengejarnya. Lifestyle yang merupakan nilai-nilai material telah berhasil menembus dunia ide dan menyatukan manusia dari berbagai ras untuk berpikiran seragam. Apakah sekarang masih ada perbedaan dalam lifestyle antara orang Negro, Eropa, Asia Timur, Asia Barat, Amerika Utara, dan masyarakat Hispanik? Satu-satunya perbedaan hanya dalam tampilan fisik etnis, selebihnya adalah apa yang tampil di media massa.

Fenomena ini menciptakan fakta-fakta sosial yang oleh Emile Durkheim dibedakan dalam tiga karakteristik. Pertama, fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu. Hal ini merupakan cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut dilihat sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran individu. Kedua, bahwa fakta tersebut memaksa individu. Bagi Durkheim, individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh pelbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Selanjutnya, tulis Durkheim, tipe-tipe perilaku atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauan individu itu sendiri. Ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang negatif atau membatasi seperti memaksa seseorang untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Sesungguhnya kalau proses sosialisasi itu berhasil, individu sudah mengendapkan fakta sosial yang cocok sedemikian menyeluruhnya sehingga perintah-perintahnya akan kelihatan sebagai hal yang biasa, sama sekali tidak bertentangan dengan kemauan individu.  Ketiga, bahwa fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Fakta sosial itu milik bersama dan bukan milik individu. Fakta sosial benar-benar bersifat kolektif dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya.

    Ketiga karakteristik fakta sosial ini –ekternalitas, paksaan, dan sifat  umum—bagi Durkheim menggambarkan tipe gejala yang menjadi pokok permasalahan dalam sosiologi.  Dalam konteks masyarakat kontemporer, tiga tipologi fakta sosialnya bisa dijadikan pintu masuk untuk menjelaskan budaya massa yang marak di paruh kedua abad duapuluh. Ekternalitas, merupakan kondisi ketika manusia tidak mampu melepaskan diri dari lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial mempunyai dampak yang sulit dihindari oleh individu. Sejalan dengan pemikiran Marx yang mengatakan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungan sosialnya, Durkheim menegaskan bahwa manusia juga dibentuk oleh sistem sosialnya. Bahasa, ekonomi, profesionalitas, norma-norma, merupakan faktor-faktor eksternal yang mampu menembus alam tak sadar manusia. Paksaan, adalah bagaimana kemudian tangan-tangan tak terlihat menciptakan sebuah komoditi yang bisa diterima oleh semua kalangan. Kalau di zaman sebelum modern ada pembedaan antara kebudayaan populer dan kebudayaan elit, maka sekarang muncullah apa yang dinamakan sebagai budaya massa. Budaya massa adalah sebuah hasil dari melunturnya batas antara budaya elit dengan budaya popular. Budaya elit yang dimiliki kalangan atas adalah budaya eklusif yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Budaya pop/rakyat merupakan budaya yang tumbuh dari bawah. Ia adalah ekspresi otonom dan spontan rakyat kebanyakan yang dibuat oleh mereka sendiri, dan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa adanya pengaruh budaya elit (MacDonald,1957:60).  Budaya massa ditumbuhkan dari atas. Ia diproduksi oleh tenaga-tenaga teknis yang diperkerjakan oleh produsen, khalayaknya adalah konsumer-konsumer pasif, dimana partisipasi mereka terbatas pada pilihan membeli atau tidak membeli. Sepertinya manusia memang tidak dipaksa untuk mengkonsumsi, namun ia tidak sadar dengan simulasi tangan-tangan tak terlihat. Seolah-olah manusia tidak dipaksa, namun ia hanya diberi pilihan alternatif dalam mengkonsumsi. “Jika Anda tidak suka Ford, silakan memakai BMW”.  Apa yang dialaminya adalah sebuah hiperealitas dalam ruang simulakrum. Manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar tidak dianggap ketinggalan zaman.  Maka orang beramai-ramai ikut dinner club, main golf, spa, ke salon. Atau ketika rambut Demi Moore tiba-tiba saja sangat populer seiring kesuksesannya membintangi film Ghost di awal dasawarsa 1990-an. Sifat Umum, adalah ketika semuanya menjadi wajar dan bisa diterima semua kalangan. Zaman sekarang, bukan hal yang aneh kalau laki-laki banyak yang suka berdandan, pergi ke salon, mandi lulur. Fenomena cowok metrosexual yang  menggemari jenis  perawatan tubuh seperti, hair care (perawatan rambut), skin care (kulit) yang bertumpu pada wajah, tooth care (gigi), body care (badan), serta hand and foot care (tangan dan kaki). Siapa sangka jika David Beckham, salah satu maestro sepak bola dunia, sering mengecat kuku jarinya dengan warna pink. Beckham, juga sering bertandang ke salon untuk melakukan facial, menicure, pedicure dan berganti potongan rambut. Bahkan, waktu yang diperlukan untuk berdandan jauh lebih lama dari istrinya. Selain itu, mantan kapten tim Manchester United ini juga tidak ragu mengenakan gaun istrinya kala di rumah. Ferry Salim, pemain sinetron sekaligus presenter papan atas di tanah air, selalu melindungi wajahnya dengan pelembab, termasuk krim mata sebelum bepergian. Ia pun mengoleksi parfum botol kecil sampai mencapai sekitar 3.500 botol. Produk-produk kosmetika yang berlabel “For Men” begitu mudah ditemui di toko-toko kosmetik. Dari shampo hingga parfum, dari sabun sampai eyeshadow.

    Gaya hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur sosial masyarakat modern. Menjadi sebuah satu kesatuan yang saling menopang dalam dunia modern. Gaya hidup menjadi ciri khas dari masyarakat modern. Manusia modern akan selalu punya lifestyle untuk melakukan tindakan komunikasi yang bersifat pertukaran simbol dengan masyarakatnya. Manusia mengidentifikasikan dirinya dengan perangkat-perangkat simbolik yang menjelaskan status sosial mereka. Modernitas kemudian dipahami sebagai gaya hidup yang menekankan penampilan luar sebagai parameter penilaian terhadap kapasitas manusia. Maka, untuk menjadi manusia  modern diperlukan atribut-atribut yang memberi kesan “kita adalah orang modern”. Modernitas hanya berujung pada sebuah tindakan konsumtif yang tidak produktif. David Chaney menjelaskan bahwa dalam dunia modern gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya. Lebih jauh Chaney menegaskan bahwa: Oleh karena itu, gaya hidup membantu memahami (yakni menjelaskan tapi bukan berarti membenarkan) apa yang orang lakukan, mengapa mereka melakukannya, dan apakah yang mereka lakukan bermakna bagi dirinya maupun orang lain.

     Konsumerisme adalah implikasi lebih lanjut dari gaya hidup masyarakat modern. Proses konsumsi tidak hanya menjadi aktivitas perdagangan yang berdasarkan nilai guna dan nilai tukar. Namun konsumsi bergerak menuju sebuah proses pertukaran simbolik yang menciptakan status-status sosial tertentu. Era pra modern menempatkan perbedaan mencolok antara kaum borjuis dan rakyat jelata dalam hal konsumsi—namun di wilayah politik, hukum, dan lainnya juga. Namun perbedaan mencolok ini berangsur-angsur menghilang seiring terciptanya produksi massal dan murah. Mengutip McKendrik, Chaney menyebutkan tentang masyarakat Inggris abad ke-18 yang menjadi saksi lahirnya suatu masyarakat konsumen dan memfasilitasi suatu revolusi konsumen, dalam proses mengatasi hambatan-hambatan yang “menuntut perubahan sikap dan pemikiran, perubahan dalam kemakmuran dan standar kehidupan, perubahan dalam teknik komersial dan keahlian-keahlian promosi, atau bahkan terkadang perubahan hukum itu sendiri. Selanjutnya Chaney mengutip pendapat McKendrik dalam gaya yang argumentatif sebagai berikut:

Jika seseorang bertanya mengapa Inggris memuncukan preseden dalam revolusi ini, unsur pokok dalam jawaban McKendrik adalah penyebaran yang relatif sempit struktur sosial kontemporer. Pabrik-pabrik baru yang menghasilkan barang-barang konsumsi pada awalnya menjadikan kalangan elit sebagai sasaran, dan dukungan mereka amat penting bagi kreasi fashion populer, tetapi keuntungan yang sangat besar yang diperoleh sesudah itu adalah dengan memasarkan dan mendistribusikan tiruan-tiruan barang-barnag tersebut kepada khlayak umum. Dalam proses pembedaan kasta sosial yang kaku, dalam wajah dan dunia kehidupan yang telah terkungkung oleh konservatisme hukum-hukum kemewahan, di antara faktor-faktor lainnya, masih perlu dirampas kemurniannya. Dalam proses menciptakan peminat dari  berbagai kalangan melalui komersialisasi fashion, periklanan dan teknik-teknik pemasaran lainnya merupakan hal yang sangat penting.
Bukan kebetulan jika kemudian muncullah apa yang disebut sebagai budaya konsumen. Budaya konsumen merupakan sebuah budaya akibat melimpahnya komoditi. Membanjirnya komoditi atau benda-benda konsumsi merupakan sarana yang efektif  bagi manusia modern untuk melepaskan segala hasrat. Pemindahan dari satu kepuasan ke kepuasan lainnya. 
Kelebihan penyediaan benda-benda konsumsi tidak  bisa dianggap  tidak membawa masalah begitu saja. Pada masyarakat barat kontemporer kelebihan persediaan benda-benda konsumsi (benda-beda simbolik) serta tendensi ke arah kekacauan dan de-klasifikasi budaya memunculkan beberapa masalah budaya dan mempunyai implikasi yang lebih luas bagi konseptualisasi tentang hubungan antara budaya, ekonomi, dan masyarakat.
Mike Featherstone membagi budaya konsumen dalam tiga perspektif.  Pertama, budaya konsumen adalah imbas dari perkembangan pesat kapitalisme. Kedua, dalam perspektif sosiologis penggunaan benda-benda konsumsi menunjukkan pembedaan status sosial dan gaya hidup. Ketiga, merupakan  hasrat-hasrat berkonsumsi dan estetika.
Dalam perspektif ilmu ekonomi klasik, objek dari semua produksi adalah konsumsi melalui pemaksimalan kepuasaan konsumen dengan pembeliaan berbagai benda-benda konsumsi. Namun dari paradigma penganut neo-Marxist abad duapuluh (Sekolah Frankfurt), perkembangan ini dipandang sebagai situasi ke arah konsumsi massal yang terkendali dan dapat dimanipulasi. Perkembangan pesat produksi kapitalis terutama setelah pergantian ke abad duapuluh dan perluasan pasar dalam bentuknya  yang  ekpansif, memandang perlunya melakukan “pendidikan publik” melalui periklanan dan media yang lain agar menjadi konsumen.
Horkheimer dan Adorno berpendapat bahwa logika komoditas yang sama serta perwujudan rasionalitas instrumental dalam lingkup produksi tampak nyata dalam lingkup konsumsi. Pencarian waktu luang, seni dan budaya, secara umum tersaring  melalui industri budaya; penerimaan diarahkan oleh nilai tukar karena tujuan yang lebih tinggi, dan nilai-nilai budaya  dikalahkan pada logika proses produksi serta pasar. Nilai-nilai tradisional yang mencakup hubungan kehidupan domestik rumah tangga dan individu, harapan akan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, pencarian hal-hal yang baru yang sangat berbeda, merupakan hasil dari budaya tinggi yang dimanipulasikan dalam bentuk budaya komoditi semu yang direproduksi secara besar-besaran untuk menghasilkan apa yang disebut  budaya massa.
Mike Featherstone menegaskan dari perspektif ini bahwa akumulasi barang telah mengakibatkan kemenangan nilai tukar, bahwa penghitungan rasional instrumental dari semua aspek kehidupan menjadi muungkin di mana semua perbedaan, tradisi budaya dan kuallitas yang esensial ditransformasikan ke dalam kuantitas (angka).
Pertanyaannya kemudian, apakah ini sekedar merupakan suatu budaya nilai tukar dan penghitungan rasionalitas instrumental? Theodor Adorno, sebagaimana dikutip Featherstone, membahas jika dominasi nilai tukar menghilangkan fungsi dari nilai guna sebuah benda, maka komoditas menjadi bebas untuk mengambil nilai guna sekunder atau nilai guna semu. Sehingga komoditas bebas mengambil berbagai bentuk ilusi-ilusi kebudayaan.

Periklanan secara khusus mampu mengeksploitasi kondisi ini dan memberikan image-image percintaan, eksotika, nafsu, kecantikan, pemenuhan kebutuhan, komunalitas, kemajuan ilmiah serta kehidupan yang lebih baik untuk menyebarkan benda-benda konsumen seperti sabun, mesin cuci, mobil serta minuman-minuman beralkohol.
Daftar Pustaka
Medhy Agintha Hidayat, Kebudayaan Postmodern Menurut Jean Baudrillard, makalah dalam www.itf.itb.ac.id, diakses 10 Juni 2003
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik & Modern, jilid 1, Gramedia, Jakarta, 1994, (terjemahan)
David Chaney, Lifestyle: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif,  Jalasutra, Yogyakarta, 2004, terj
Mike Featherstone, Posmodernisme & Budaya Konsumen, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001
DG Adian, Arus Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2001
  


Kamis, 27 Oktober 2011

FEDERATION OF ROCKS

by Sucipto Zepp on Saturday, January 31, 2009 at 11:57am

ROCK sungguh sulit didefinisikan sebagai musik. Rock memang merupakan salah satu mainstream dalam musik, namun bukan kemudian ada penjelasan yang tetap dan tepat secara musikalitas.

Rock sebagai aliran dalam bermusik mulai dikenal di era 50-an lewat sang maestro Elvis Presley. Sang Flamboyan mampu menciptakan sebuah genre bermusik yang sangat menyimpang tidak hanya secara musikalitas tetapi juga adat.

Sebelum era Presley, musik terkotak dalam dua genre besar. Genre pertama adalah religi. Musik adalah harmonisasi tetap yang mengusung tema religius dan kesopanan. Musik adalah simbol religi yang karenanya bersifat suci sebagai bentuk pemujaan terhadap Tuhan. Musik disakralkan sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dibuat main-main. Lirik dalam bermusik adalah pertobatan dan pemujaan terhadap Tuhan.

Genre kedua adalah musik sebagai konsumsi kalangan borjuis/elit. Di era ketika belum tercipta sarana reproduksi massal, musik hanya monopoli kalangan berduit ketika terpatok pada gedung2 teater. Musik adalah konsumsi elitis.

Di antara dua genre besar ini terdapat satu genre yang menjadi bayang-bayang (atau tepatnya sebagai oposan). Genre ini dikenal sebagai musik populer atau musik rakyat jelata. Jenis musik ini, tidak sebagaimana dua genre sebelumnya, sangatlah beragam dan unik. beragam dalam arti begitu banyak jenis dan unik dalam arti menampilkan kreativitas yang begitu kaya dari masing-masing kreatornya. Sehingga, banyak dikenal kemudian musik2 populer yang mencirikan daerah tertentu atau etnik tertentu.

Secara musikalitas musik jenis ini ringan, sederhana, mudah dipahami. Tema2 yang diangkat pun merupakan masalah sehari2 dan sangat merupakan representasi keseharian masyarakat banyak. Tidak mengherankan kemudian lirik2 tentang seks, cinta, kebebasan pun banyak ditemui dalam musik ini. Meskipun juga tema2 politis seperti kritik terhadap kekuasaan atau struktur sosial tidak jarang juga justru menjadi roh bagi musik populer ini. Musik populer ini merupakan bagian dari kebudayaan populer yang menurut McDonald (1956) merupakan sarana ekspresi masyarakat bawah yang tidak bersifat komersil dan hanya menjadi kebutuhan mereka sendiri.

Musik Rock, bisa dikatakan merupakan perkembangan luar biasa dari musik populer. Roh yang mengilhami lahirnya musik rock adalah anti kemapanan dan pemberontakan terhadap budaya keseragaman yang diciptakan oleh status quo. Para pemuda yang menolak untuk diseragamkan karena masing2 individu, masing2 pribadi adalah unik sehingga penyeragaman adalah sebuah bentuk anti-humanisme.

Hal inilah yang kemudian membuat musik rock begitu kaya akan aliran, genre, atau apapun namanya yang menunjukkan keunikan yang tiada terbatas. Musik Rock, sehingga dikemudian hari, dikenal sebagai sebuah federasi musik daripada aliran musik. Rock adalah gerakan kebudayaan yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk bermusik.

Musik rock mengenal bermacam2 aliran semisal rock n roll, hard rock, punk, heavy metal, dsb. Kita mengenal The Beatles sebagai musik rock, namun Metallica juga kita kenal sebagai musik rock. Meskipun keduanya berbeda secara musikalitas, kedua tetap dianggap sebagai bagian dari musik rock. Disinilah letak kekayaan musik rock, sehingga kita mengenal FEDERATION of ROCKS yang beranggotakan rock n roll, hard rock, punk, heavy metal, dan banyak anggota lainnya.

Federasi ini tidak akan pernah berkurang, tetapi selalu bertambah seiring berkembangnya musik itu sendiri. Jadi, siapa yang mau menggabungkan diri dengan FEDERATION OF ROCKS.