"ing sakjeroning sepi kui ono ajaran luhur lan tumindak wicaksono kang dadi pinuju kabecikan-di dalam kerendahan hati itu ada ajaran luhur dan tindakan bijaksana yang menjadi tujuan kebajikan"

Tampilkan postingan dengan label ALChemy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALChemy. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2016

Industri Politik


Industri politik, bukanlah barang baru yang datang tiba-tiba. Semenjak ribuan tahun silam, politik sudah menjadi sejenis komoditi yang mendatangkan banyak fulus. Bangsa Romawi sudah mengenal industri ini ketika sistem pemerintahan mereka menggunakan perwakilan rakyat melalui para senator. Para kandidat senator ketika itu sudah menggunakan pemberian imbalan uang untuk para pemilihnya. Para kandidat senator, juga sudah mempekerjakan orang-orang pilihan untuk mempengaruhi opini masyarakat, untuk melapangkan jalan menduduki kursi senator.

Namun, industri politik ketika itu belumlah cukup untuk menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang bersifat massal. Perputaran industri politik bangsa Romawi masih seputar kalangan terbatas dengan peredaran uang yang juga terbatas. Industri politik bangsa Romawi, belum mengenal yang namanya perusahaan konsultan politik.

Industri, memiliki pola produksi secara massal dan diikuti pola konsumsi secara massal. Politik di Indonesia sudah memasuki wilayah industri ketika pemilihan secara langsung dilakukan. Meskipun dilakukan secara berkala, industri politik sudah menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan kemapanan material. Di wilayah eksekutif, terdapat peluang industri dimulai dari pilihan presiden, pemilihan gubernur di 33 provinsi, pemilihan bupati/walikota di ratusan kabupaten/kota. Sedangkan di wilayah legislatif, terdapat peluang yang lebih banyak, dengan ratusan anggota legislatif di wilayah pusat, serta puluhan ribu anggota dewan di wilayah provinsi dan kabupaten/kota.

Perusahaan konsultan politik adalah fenomena unik di negara-negara penganut demokrasi, yang para wakil dan pemegang otoritas kekuasaannya dipilih langsung oleh rakyat. Amerika Serikat sebagai ikon demokrasi dunia sudah memulai bisnis konsultan politik semenjak permulaan abad ke 20. Munculnya perusahaan konsultan politik ini memanfaatkan booming media massa, yang ketika itu masih berupa media cetak. 

Di negara seperti AS, yang tingkat melek media penduduknya sangat tinggi, penggunaan media massa untuk melancarkan strategi kampanye sangat efektif. Media massa sangat efektif untuk menonjolkan seseorang agar bisa menjadi publik figur. Namun, untuk negara yang tingkat melek media penduduknya masih rendah, diperlukan cara lain sebagai alternatif penggunaan media massa.

Media massa memang lahan yang tepat untuk menghasilkan opini publik. Opini publik merupakan hasil rekayasa media yang disusun untuk target-target politik tertentu. Menganggap media sebagai entitas yang netral adalah kekeliruan, bahkan termasuk bagian dari kesesatan berfikir. Media massa dari awal penciptaannya sudah menjadi alat kepentingan kelompok tertentu. Media massa yang paling kuno sekalipun adalah alat kepentingan kelompok, adalah misalnya codex. Codex yang sangat terkenal, yaitu Codex Hamurabi, merupakan naskah yang berisi undang-undang kerajaan Babilonia. Undang-undang ini dikeluarkan untuk memberitahukan kepada rakyat Babilonia mengenai hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Codex ini menjadi alat bagi penguasa Babilonia, bagaimana agar rakyat memiliki kepatuhan sebagaimana tertulis di dalam codex. Kepatuhan rakyat adalah jalan lempeng melanggengkan kekuasaan.

Contoh lain media massa kuno adalah iklan penjualan budak. Beberapa peninggalan iklan penjualan budak ditemukan di Yunani. Iklan dibuat tentu saja untuk mewakili kepentingan orang atau kelompok tertentu. Iklan berhubungan dengan strategi memasarkan produk agar laku.

Munculnya media massa adalah untuk mewakili kepentingan ekonomi dan politik.Dalam hal yang lebih luas, media massa adalah salah satu alat dari ekonomi politik itu sendiri. Ekonomi dan politik adalah dua hal yang sudah menjadi satu dalam konsep kekuasaan modern. Ekonomi adalah panglima yang didukung oleh politik sebagai ujung tombaknya.

Masyarakat Indonesia , meskipun yang tinggal di perkotaan, ternyata tidak begitu melek dengan media massa. Tingkat akses media massa masyarakat Indonesia tidak sebaik negara-negara lainnya. Namun, fenomena menarik adalah jejaring sosial. Jejaring sosial adalah salah satu jenis media massa yang memberi ruang bagi individu untuk menyampaikan pendapat. Tidak seperti media massa mainstream yang mengharuskan seleksi ketat agar sebuah opini bisa dimuat.

Akses yang tinggi masyarakat Indonesia terhadap jejaring sosial inilah yang digunakan sebagai bagian dari industri politik. Perusahaan konsultan politik di Indonesia sudah memanfaatkan jejaring sosial semenjak Pemilu 2009. Fenomena facebook dan twitter menjadi lahan yang cukup banyak digunakan melancarkan strategi kampanye. Tingginya akses masyarakat Indonesia terhadap jejaring sosial ini memunculkan apa yang dikenal dengan istilah cyber army (pasukan dunia maya).

2004, pertama kalinya pemilihan presiden, gubernur, dan bupati/walikota secara langsung, keberadaan perusahaan konsultan politik masih belum marak. Para kandidat hanya membentuk “tim sukses” (bisa disebut tim gagal kalau tidak sukses) untuk melapangkan jalan menuju target-target politiknya.

Politik sudah mulai bisa dikatakan sebagai industri pada Pemilu 2014. Perusahaan konsultan politik tumbuh dimana-mana dengan berbagai nama dan afilisasi. Tentu saja, pusat industri politik adalah Jakarta, sebagai megapolitan yang menjadi tempat berkumpulnya uang dan kekuasaan.

Semenjak 2009, strategi kampanye mulai menggunakan apa yang disebut black propaganda. Istilah ini merujuk pada cara-cara menjatuhkan lawan politik melalui isu yang dibuat-buat. Memanfaatkan kelemahan lawan untuk dijatuhkan citra politiknya.Namun saat itu, efek black propaganda belum begitu terasa mengingat penggunaan jejaring sosial masih minim dan hanya berada di wilayah perkotaan.

Memasuki 2014, jejaring sosial sudah menjadi alat atau bagian dari ujung tombak kampanye. Jejaring sosial memungkin pesan-pesan politik sampai kepada tiap individu. Akses masyarakat Indonesia terhadap jejaring sosial mulai merata dari kota hingga ke desa. Jejaring sosial diakses dari lintas kalangan dan lintas usia. Jejaring sosial yang paling banyak digunakan adalah facebook dan twitter.

Jejaring sosial digunakan tidak hanya untuk mendukung salah satu kandidat, tetapi juga digunakan untuk menjatuhkan lawan dari kandidat yang didukung. Teknik menjatuhkan lawan politik ini dikenal dengan istilah black propaganda(kampanye hitam). Kampanye hitam ini memulai sepak terjangnya secara terbuka dan terang-terangan di pemilu nasional 2014.

Cyber army memainkan perang penting dalam proses industri politik, meskipun bukan sebagai pemain utama. Baik untuk menaikkan elektabilitas kandidat, atau untuk menjatuhkan pesaing, cyber army bergerak secara efektif untuk menyasar ke tiap-tiap individu yang memiliki akun jejaring sosial, baik facebook, blogger, maupun twitter.

Cyber army dikendalikan oleh tim yang bertugas untuk merumuskan isu. Tim ini dibentuk khusus untuk menghasilkan opini dan opini akan disebar secara massal oleh cyber army. Tim khusus ini merangkai isu dalam bentuk esai dan dimuat dalam blog-blog khusus. Blog-blog khusus ini akan disebar link-nya oleh para cyber army. Jejaring sosial memainkan peran penting untuk penyebaran link dari blog-blog yang dibentuk oleh tim khusus.

Blog-blog yang dibuat biasanya dibagi menjadi dua. Pertama, blog yang khusus untuk menaikkan dan menonjolkan kandidat. Kedua, blog yang dirancang khusus untuk menjatuhkan pesaing. Blog yang dirancang untuk menjatuhkan pesaing ini kemudian dikenal dengan black propaganda.

Link-link dari blog khusus ini akan mudah ditemui dari jejaring sosial yang direkrut sebagai cyber army. Hampir setiap hari akan ditemui link dari blog-blog yang disebar melalui akun-akun jejaring sosial. Jejaring sosial memungkin strategi kampanye dengan cara demikian, karena dunia maya memungkinkan seseorang untuk lari dari tanggung jawab. Biasanya, akan banyak bermunculan akun-akun palsu, baik akun facebook maupun twitter. Namun, bayaran seorang cyber army akan lebih mahal jika akun yang digunakan adalah akun asli. Akun asli digunakan untuk menaikkan popularitas dan nilai plus dari seorang kandidat. Sedangkan akun palsu banyak digunakan untuk melancarkan black propaganda.

Industri politik tidak hanya menyasar wilayah jejaring sosial, namun jauh lebih luas dari itu. Pembentukan tim kampanye akan melibatkan banyak orang sekaligus banyak uang. Tim kampanye akan bergerak langsung di wilayah dimana jejaring sosial masih sulit diakses. Tim kampanye akan merekrut personil dari wilayah-wilayah target pemenangan. Perekrutan ini membutuhkan dana yang besar sekaligus dana untuk tiap pemilih atau yang dikenal dengan uang saku.

Banyak wilayah yang terlibat dari industri politik ini. Dari wilayah konveksi untuk menyediakan kaos, atribut-atribut kampanye, sampai sepanduk. Wilayah entertainment juga terlibat dengan pengadaan hiburan, mulai dari organ tunggal hingga konser dangdut atau musik-musik lainnya. Industri kuliner juga mendapatkan bagian dengan pengadaan konsumsi pada perhelatan kampanye yang mengerahkan massa. Industri politik, telah menggerakkan roda perekonomian, dari pusat-pusat kekuasaan di Jakarta hingga ke pelosok desa. Melibatkan, para profesor hingga mereka yang tidak sempat sekolah.

Media massa mendapatkan keuntungan paling banyak dengan industri iklan dan mengendalikan berita. Kandidat yang memiliki afiliasi dengan media massa tertentu, tidak hanya bergerak dengan iklan, tetapi juga akan tampil sebagai narasumber untuk menjelaskan visi misinya melalui media massa.


Politik, telah memasuki wilayah industri, dengan pelibatan multi wilayah dan personal secara massal. Industri politik telah berhasil menghidupi banyak orang dengan perputaran uang yang sangat aduhai. Mereka yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan akan menikmati industri ini. Dan kekuasaan, seringkali dikejar untuk menguasai wilayah industri politik ini.

Minggu, 10 Januari 2016

Tentang Penaklukkan

Sebenarnya ini merupakan wacana yang sudah lama menjadi keprihatinan banyak orang di berbagai belahan bumi ini. Menyoal kerusakan lingkungan yang semakin parah dan hanya menyisakan rasa prihatin belaka. Bagaimana mungkin, bumi ini, rumah dan kehidupan bagi seluruh umat manusia, terus mengalami pengrusakan dari waktu ke waktu, demi satu tujuan, kesejahteraan manusia itu sendiri.

Puluhan tahun silam, sekelompok orang di Universitas Frankfurt, Jerman, mendirikan sejenis “komunitas terbatas” yang di kemudian hari terkenal sebagai Sekolah Frankfurt. Komunitas terbatas ini terdiri dari orang-orang dari lintas disiplin ilmu. Pembicaraan mereka adalah mengenai berbagai masalah sosial yang terus menghinggapi manusia modern.

Salah satu pembicaraan mereka menghasilkan apa yang disebut dengan rasio teknis, atau yang dikenal juga dengan rasio instrumental. Rasio teknis adalah bagaimana manusia modern memandang lingkungan sekitarnya. Dalam sudut pandang rasio teknis, alam adalah obyek yang harus ditaklukkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Penaklukkan alam dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia dalam sudut pandang industrialisasi. Filsafat modern yang berhasil menemukan jalannya di Eropa Barat kemudian berakibat pada revolusi industri. Para anggota Sekolah Frankfurt menganggap rasio teknis inilah yang mengakibatkan eksploitasi tanpa batas dan mengakibatkan tidak hanya bencana alam tetapi juga bencana kemanusiaan (kelaparan, urbanisasi, dan berbagai masalah sosial lainnya).

Revolusi industri adalah wajah yang tidak pernah ada dalam sejarah peradaban umat manusia sebelumnya. Belum pernah ada proses produksi massal yang mampu menandingi revolusi industri. Baik teknologi yang digunakan, bahan baku hasil eksploitasi alam, dan produk-produknya yang mampu melintasi penjuru dunia.

Industrialisasi yang ada sekarang ini, adalah hasil dari perkembangan revolusi industri yang mengharuskan eksploitasi terhadap alam, bahkan manusia. Perkembangan revolusi industri telah menghasilkan kelas sosial baru yang disebut dengan kelas buruh. Pada tahap berikutnya, kelas buruh ini terbagi menjadi dua, buruh kerah biru dan buruh kerah putih.

Buruh kerah biru adalah pekerja kasar yang berhubungan dengan proses produksi. Mereka ini diambil dari kelompok yang berpendidikan rendah dan hanya dibutuhkan tenaganya saja. Jumlah mereka sangat banyak, bahkan hingga ribuan tergantung dari kapasitas produksi pabrik tempat mereka bekerja. Gaji mereka pun terbilang kecil. Sedangkan buruh kerah putih adalah staf-staf ahli dari kelompok berpendidikan tinggi. Mereka adalah lulusan universitas dan terdiri dari para insinyur, ahli ekonomi, staf-staf pemasaran, atau para peneliti. Jumlah mereka lebih sedikit daripada buruh kerah biru. Gaji para buruh kerah putih ini tentu jauh lebih besar daripada buruh kerah biru.

Kembali lagi ke soal penaklukan alam. Rasio teknis bagaimanapun menghendaki bagaimana alam ini bisa di eksploitasi semaksimal mungkin. Eksploitasi alam tidak hanya didukung oleh para staf ahli yang kompeten, tetapi juga melibatkan perangkat aparatur negara melalui undang-undang. Raksasa-raksasa industri memiliki akses ke pemerintahan, hingga ke pemerintahan negara lain. Akses-akses ini memungkinkan berbagai raksasa industri tersebut memiliki legalitas untuk melakukan eksploitasi alam. Misalnya izin untuk melakukan penebangan hutan, pengeboran minyak dan gas, penambangan mineral, penangkapan ikan, atau membuat perkebunan sekala besar.

Eksploitasi alam ini, sebagaimana menggunakan sudut pandang rasio teknis, adalah bersifat memandang alam sebagai obyek. Manusia kemudian melihat alam adalah sekedar benda mati yang begitu di eksploitasi tidak akan memiliki dampak apa-apa selain keuntungan ekonomi. Cara berfikir rasio teknis ini, tidak hanya menghinggapi mereka yang menjadi pemilik raksasa industri, tetapi telah sampai kepada mereka yang bergelut dalam industri skala kecil. Penaklukkan alam pun semakin banyak dilakukan hingga ke pelosok manapun.

Bagaimanapun juga, penaklukkan alam ini memberikan dampak merugikan bagi manusia. Setelah tiba waktunya, manusia merasa bahwa eksploitasi yang mereka lakukan telah membawa kerugian. Sumber daya alam semakin menipis dan ini mengkawatirkan banyak pihak. Menipisnya berbagai sumber daya alam ini membuat sebagian pihak malah giat melakukan eksplorasi ke belahan dunia lainnya. Sebagian lainnya menyadari bahwa nafsu mengeksploitasi alam harus mulai dikendalikan.
Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh eksploitasi ini memunculkan kesadaran untuk menyelamatkan lingkungan. Banyak gerakan atau isu-isu bermunculan mengenai penyelamatan lingkungan. Bahkan muncul pula gerakan untuk menyelamatkan bumi. Tentu saja gerakan atau isu ini terkesan naif. Penyelamatan bumi tidak lain adalah untuk kepentingan keselamatan manusia. Harus hidup dimana manusia kalau tidak di bumi. Bumi adalah rumah satu-satunya bagi manusia.

Bumi, adalah bagian alam semesta yang memiliki aturan main sendiri jauh sebelum umat manusia menempatinya. Segala bentuk fenomena alam yang ada di bumi adalah bagaimana mekanisme keseimbangan alam berlaku di bumi. Begitu pula dengan yang disebut sebagai bencana alam. Banjir misalnya, adalah proses keseimbangan alam ketika tanah tidak mampu menyerap air di permukaan akibat gundulnya hutan dan mendangkalnya sungai-sungai akibat sampah yang menumpuk. Hal-hal seperti ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai bencana alam. Tentu saja, eksploitasi alam yang berlebihan menghasilkan masalah bagi manusia itu sendiri. Banjir, tanah longsor, kekeringan, adalah bagaimana bumi bereaksi dengan kondisi yang ada. Tanpa campur tangan manusia sekalipun, bumi sudah memiliki mekanisme sendiri untuk melakukan keseimbangan. Gempa, letusan vulkanik, atau tsunami, adalah gejolak alam yang sudah menjadi bagian dari bumi.

Eksploitasi alam secara berlebihan didasari oleh pemahaman bahwa alam ini adalah obyek. Pemahaman yang dilatarbelakangi revolusi industri ini terus tertanam kuat dalam alam fikiran manusia hingga sekarang. Pemahaman ini juga tertanam kuat di masyarakat Indonesia. Jenis pola fikir ini sebenarnya sangat bertolak belakang dengan pemahaman klasik masyarakat di Indonesia. Pemahaman klasik masyarakat di Indonesia, memandang alam adalah subyek sebagaimana manusia itu sendiri. Memperlakukan alam tidak bisa dilakukan dalam kerangka eksploitasi belaka, tetapi juga menjaga bagaimana keseimbangan tetap terjaga. Sebagian masyarakat di Indonesia, terutama Jawa, meyakini bahwa alam memiliki ruh. Alam bukanlah benda mati tanpa ruh. Alam memiliki ruh yang merupakan dimensi ruhaniyah alam dari sang penciptanya. Dalam hal ini, masyarakat Jawa klasik akan memanfaatkan alam secukupnya tanpa perlu adanya eksploitasi. Menjaga keseimbangan alam merupakan cara bagaimana masyarakat Jawa berinteraksi dengan lingkungannya.

Sekolah Frankfurt pun sudah mengatakan perlu rasio kritis, untuk menempatkan manusia pada posisi yang seimbang dalam hubungan dengan alam dan lingkungannya. Berbagai bencana alam dan kemanusiaan adalah akibat dari rasio teknis yang mendorong manusia bersikap tidak sewajarnya pada lingkungannya.

Namun, jauh sebelum Sekolah Frankfurt menyampaikan ide rasio kritis ini, masyararakat di belahan bumi bagian Timur, telah bersikap bagaimana menempatkan dirinya secara selaras dengan alam sekitarnya. Nilai-nilai masih banyak ditemukan pada berbagai tempat di pelosok Jawa. Bagaimana masyarakat Jawa melakukan sedekah alam, sesajen adalah bukan untuk menyembah selain dari-Nya, tetapi merupakan hubungan timbal balik yang selaras antara manusia dengan lingkungannya.

Di wilayah Gunung Kidul misalnya, ada larangan untuk memancing atau menangkap jenis ikan sidat. Larangan ini bukan karena sidat adalah jenis ikan yang keramat. Namun, masyarakat di Gunung Kidul memahami sidat mampu menghasilkan sumber-sumber air. Sungai-sungai atau sumber air yang terdapat ikan sidat akan lebih terjaga debit airnya pada musim kemarau karena ikan sidat memiliki perilaku untuk menggali sumber air begitu musim kemarau tiba. Karena itulah, memancing atau menangkap sidat dilarang mengingat Gunung Kidul adalah daerah yang rawan kekeringan ketika kemarau tiba. Tanahnya yang berupa kapur dan bebatuan sulit untuk menemukan sumber-sumber air. Berbeda dengan wilayah lainnya yang cukup mudah menemukan sumber air.

 Masyarakat Jawa klasik memahami bahwa harus ada hubungan yang bersifat timbal balik antara dirinya dengan alamnya. Hubungan timbal balik ini akan menempatkan manusia sebagai subyek dan alam juga sebagai subyek. Hubungan antara subyek dan subyek menghasilkan interaksi yang adil sehingga harmonisasi antara manusia dan lingkungannya bisa tercapai. Alam bukanlah obyek yang harus ditaklukkan, tetapi subyek yang harus diperlakukan secara bijak.


Kamis, 27 Oktober 2011

FEDERATION OF ROCKS

by Sucipto Zepp on Saturday, January 31, 2009 at 11:57am

ROCK sungguh sulit didefinisikan sebagai musik. Rock memang merupakan salah satu mainstream dalam musik, namun bukan kemudian ada penjelasan yang tetap dan tepat secara musikalitas.

Rock sebagai aliran dalam bermusik mulai dikenal di era 50-an lewat sang maestro Elvis Presley. Sang Flamboyan mampu menciptakan sebuah genre bermusik yang sangat menyimpang tidak hanya secara musikalitas tetapi juga adat.

Sebelum era Presley, musik terkotak dalam dua genre besar. Genre pertama adalah religi. Musik adalah harmonisasi tetap yang mengusung tema religius dan kesopanan. Musik adalah simbol religi yang karenanya bersifat suci sebagai bentuk pemujaan terhadap Tuhan. Musik disakralkan sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dibuat main-main. Lirik dalam bermusik adalah pertobatan dan pemujaan terhadap Tuhan.

Genre kedua adalah musik sebagai konsumsi kalangan borjuis/elit. Di era ketika belum tercipta sarana reproduksi massal, musik hanya monopoli kalangan berduit ketika terpatok pada gedung2 teater. Musik adalah konsumsi elitis.

Di antara dua genre besar ini terdapat satu genre yang menjadi bayang-bayang (atau tepatnya sebagai oposan). Genre ini dikenal sebagai musik populer atau musik rakyat jelata. Jenis musik ini, tidak sebagaimana dua genre sebelumnya, sangatlah beragam dan unik. beragam dalam arti begitu banyak jenis dan unik dalam arti menampilkan kreativitas yang begitu kaya dari masing-masing kreatornya. Sehingga, banyak dikenal kemudian musik2 populer yang mencirikan daerah tertentu atau etnik tertentu.

Secara musikalitas musik jenis ini ringan, sederhana, mudah dipahami. Tema2 yang diangkat pun merupakan masalah sehari2 dan sangat merupakan representasi keseharian masyarakat banyak. Tidak mengherankan kemudian lirik2 tentang seks, cinta, kebebasan pun banyak ditemui dalam musik ini. Meskipun juga tema2 politis seperti kritik terhadap kekuasaan atau struktur sosial tidak jarang juga justru menjadi roh bagi musik populer ini. Musik populer ini merupakan bagian dari kebudayaan populer yang menurut McDonald (1956) merupakan sarana ekspresi masyarakat bawah yang tidak bersifat komersil dan hanya menjadi kebutuhan mereka sendiri.

Musik Rock, bisa dikatakan merupakan perkembangan luar biasa dari musik populer. Roh yang mengilhami lahirnya musik rock adalah anti kemapanan dan pemberontakan terhadap budaya keseragaman yang diciptakan oleh status quo. Para pemuda yang menolak untuk diseragamkan karena masing2 individu, masing2 pribadi adalah unik sehingga penyeragaman adalah sebuah bentuk anti-humanisme.

Hal inilah yang kemudian membuat musik rock begitu kaya akan aliran, genre, atau apapun namanya yang menunjukkan keunikan yang tiada terbatas. Musik Rock, sehingga dikemudian hari, dikenal sebagai sebuah federasi musik daripada aliran musik. Rock adalah gerakan kebudayaan yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk bermusik.

Musik rock mengenal bermacam2 aliran semisal rock n roll, hard rock, punk, heavy metal, dsb. Kita mengenal The Beatles sebagai musik rock, namun Metallica juga kita kenal sebagai musik rock. Meskipun keduanya berbeda secara musikalitas, kedua tetap dianggap sebagai bagian dari musik rock. Disinilah letak kekayaan musik rock, sehingga kita mengenal FEDERATION of ROCKS yang beranggotakan rock n roll, hard rock, punk, heavy metal, dan banyak anggota lainnya.

Federasi ini tidak akan pernah berkurang, tetapi selalu bertambah seiring berkembangnya musik itu sendiri. Jadi, siapa yang mau menggabungkan diri dengan FEDERATION OF ROCKS.

Kamis, 15 September 2011

determinisme KOLONIAL

#SZ(februari2009)
Masa lalu bangsa ini bersimbah dengan cerita heroik melawan kaum penjajah. Setiap daerah memiliki sendiri cerita2 kepahlawanan yang terus dijaga spirit heroismenya hingga kini.

Ini merupakan fenomena yang tidak bisa dianggap salah, sebenarnya. Sampai suatu ketika mitos kepahlawanan itu dipaksakan menjadi identitas untuk membentuk khayali yang kemudian kita kenal sebagai Indonesia.

Kebangsaan yang kita kenal sebagai Indonesia dibangun berdasarkan sentimen sesama korban kolonial. Perasaan sentimentil ini yang menjadi spirit paham kebangsaan yang bertahan hingga sekarang. Meskipun, secara ironis paham ini berkembang menjadi kesadaran bersama setelah ratusan tahun Belanda mondar-mandir di belahan Nusantara.

Kesadaran ini yang kemudian membuat sejarah bangsa ini terjebak pada idiom perjuangan untuk mengusir penjajah dari nusantara. Tidak salah memang, namun pemaksaan pengertian seperti ini membawa pada sebuah kesadaran palsu atas masa lalu.

Pertanyaanya, perjuangan mengusir penjajah apakah merupakan tindakan reflektif atas nama nation-state sebagaimana kita pahami sekarang?

Nasionalisme, begitu Ben Anderson menulis, merupakan hasil dari imajinasi massal yang kemudian membentuk komunitas terbayang (imagined community). Kesadaran inilah yang kemudian membentuk sebuah solidaritas massal berdasarkan sentimen tertentu. Nasionalisme menerobos wilayah kognitif individu melalui serangkaian tindakan terstruktur secara massal. Dalam hal ini, nasionalisme telah menjadi arketipe dari sebuah proses pemahaman bersama. Nasionalisme dalam wilayah politik kontemporer merupakan sebuah ketaksadaran massal yang dikelola oleh elit2 yang berkepentingan.

Pandangan psikoanalitik semacam ini tidaklah bermaksud untuk mencerabut nasinalisme dari konteks nation-state, sebaliknya psikoanalitik akan membawa nasionalisme pada ranah perbincangan demi koreksi atas sikap ber-nasional-isme.

Kolonialisme adalah romantiksentimentil yang melatarbelakangi terbentuknya bangsa Indonesia. Masing2 bangsa yang beranung di bawah NKRI memiliki catatan sejarah mengenai perjuangan melawan kolonial. Sebelum melewati abad 20, kesadaran yang terbangun adalah melawan kolonial keluar dari wilayah masing2. Saat itu konteks perjuangan yang bersifat kedaerahan merupakan fakta sejarah yang seringkali diingkari motivasinya.

Sampai saat ini, melewati berbagai momen kebangsaan, fakta2 sejarah itu terus dipahami sebagai sebuah perjaungan nasional melawan kolonial. Pahlawan2 dari masing2 daerah terus ditinjolkan demi simbol heroik sebuah daerah. Disinilah letak kekeliruan ketika kolonialisme menjadi rujukan sejarah bangsa ini. Bukankah masing2 wilayah di nusantara ditaklukkan belanda dalam rentang waktu yang tidak bersamaan. Bukankah masing2 wilayah seringkali acuh ketika melihat tetangganya habis dibantai kolonial sambil berharap2 cemas kolonial tidak akan menghampiri mereka.

Kolonialisme adalah harga mati bagi kelamnya sejarah bangsa ini. Namun catatan yang tidak boleh dilupakan bahwa kolonialisme tidak bisa dijadikan patokan bagi nation-state. Ada beragam masalah yang tidak kunjung diselesaikan bagi terciptanya paham nation-state yang lebih cerdas. Mungkin, bisa jadi inilah adalah kesengajaan politis. Namun yang perlu dijadikan catatan bahwa ketika kolonialisme terus menerus menjadi determinan sejarah, maka mental inlander akan seterusnya hinggap pada mindset generasi penerus.